Sempat musim tak menentu...
Mungkin itu yang ada didalam hatiku...
Kukira musim semi...
Tapi musim gugur yang berkepanjangan...
Tiga musim sekaligus yang aku lalui...
Tiga musim pula lah yang membuat patah semangat...
Satu musim aku di tinggal dia pergi...
Satu musim aku semakin menderita...
Dan satu musim ini yang membuat aku semakin terluka...
Saat musim pertama aku ditinggal pergi...
Terasa kacau di semua hariku,kenangan ku,dan cintaku...
Seperti panah yang menusuk hingga seluruh jiwaku...
Kau pergi dan tak mengingat begitu saja...
Bah tulisan di telaga warna yang tersiram air hujan...
Tanpa bekas,tanpa ukiran namamu bersamaku...
Itu sebuah tanda...
Itu sebuah cerita...
Biarlah cintaku kau bawa pergi...
Aku rela bila cintaku bersamamu...
Karna tak mudah melupakan kenangan itu...
Karna sang pujangga selalu ada dihatiku...
Kini musim yang kedua dari yang pertama...
Seperti tidak ada henti deritaku...
Baru tiga bulan aku ditinggal pergi...
Kini aku harus lebih sendiri...
Aku tak berdaya,harus bertatah sendiri...
Aku butuh semangat,aku harus menghibur diri...
Saat aku butuh suap makan...
Harus tanganku sendiri yang lakukan...
Kau pergi seolah ceria tanpa batas...
Kau bercinta seolah dunia luas...
Dan kau tau apa yang aku rasa...
Sakit,sakit hatiku,dan sangat sakit kakiku...
Tapi kau tidak...
Kau bergurau dengan pasanganmu...
Senyumu seolah kepuasan bagimu...
Senyummu menyudut lebih luka di hatiku...
Sampai aku nekat tunjukan kesemua...
Aku tatah kakiku dengan tongkatku...
Berpura-pura aku sanggup...
Padahal bermodalkan nekat dan sakit dihati...
Aku berani menujukan kepada semuanya...
Dengan sakit hati aku berani...
Aku bawa tongkatku,aku turun sendiri,aku makan berfikir sendiri,meski banyak orang yang kasihan...
Tapi aku tunjukan kalau aku bisa...
Dua malam aku tak bisa tidur...
Sampai aku dipelukan orang tua ku...
Terlelap lega bersamanya...
Dan tangis air mata yang aku berikan...
Canda tawa adiku itu semangatku...
Tapi hingga aku mimpi bersamamu...
Biarkan,biarkan derita yang menjelma...
Kayak nya tak cukup aku membuat puisi dengan ceritaku...
Tapi kenangan tanpa arti...
Tapi kenangan tanpa tangis...
Bukan kenangan yanga ada didalam hati...
Meski bahagia muncul dari hati...
Meski derita itu juga muncul dari hati...
Jadi biarkan kenangan terukir di hati...
Karna hati bisa diam untuk menanti...
Musim yang nomer tiga...
Aku lalui dengan tangis yang mendalam...
Orang tua kedua yang aku ikuti kini telah tiada...
Dia pergi untuk selamanya...
Kini aku hidup sendiri...
Tanpa dia,dan pak deku...
Air matapun keluar tak mampu utuk mengenang...
Air matapun tak sanggup untuk membalas...
Maafkan jika selama ini aku konyol...
Dan maafkan jika semua mengecewakan...
Tapi kan ku usahakan semua akan menjadi baik...
Dan tak kan terulang seperti sedia kala...
Rasa sendiriku semakin dalam...
Dimusim nomer tiga...
Semua kosong...
Semua sedih...
Kenapa musim menjadi tiga dalam tahunMu...
Hancur hatiku...
Biar dia bahagia dengan pasanganya...
Karna bisa menutupi sedih yang lara ini...
Maafkan jika aku menyipan dendam...
Maafkan jika aku menyimpan suka...
Dengan ini pula aku bisa bercerita...
Semua kenagan yang ada...
Tapi aku bangga dengan kekasihku...
Meski dimusim gugur dia terlihat bersemi...
Dia mau menerima aku apa danya...
Tanpa malu dan merasa bangga...
Ia tunjukan diriku dengan sahabatnya...
Gandeng tanganku dengan mesra...
Meski jalanku tak rata...
Tapi dia tak mali dan tak buat aku kecewa...
Terimakasih my honey...
Kau mau mengisi hariku yang penuh ujian ini...
Kulah cahaya hatiku...
Terimakasih kau cintaku(niecha') I L U...
Biarkan kenanganku terkubur dengan kenangan bersamamu,
Biarkan tumbuh kenangan ku bersamamu,kan kutata dengan nama...ini TRIMS
By:Ayi merana
Kirim puisi lewat e-mail:www.ariwibowoe92@yahoo.com
Mungkin itu yang ada didalam hatiku...
Kukira musim semi...
Tapi musim gugur yang berkepanjangan...
Tiga musim sekaligus yang aku lalui...
Tiga musim pula lah yang membuat patah semangat...
Satu musim aku di tinggal dia pergi...
Satu musim aku semakin menderita...
Dan satu musim ini yang membuat aku semakin terluka...
Saat musim pertama aku ditinggal pergi...
Terasa kacau di semua hariku,kenangan ku,dan cintaku...
Seperti panah yang menusuk hingga seluruh jiwaku...
Kau pergi dan tak mengingat begitu saja...
Bah tulisan di telaga warna yang tersiram air hujan...
Tanpa bekas,tanpa ukiran namamu bersamaku...
Itu sebuah tanda...
Itu sebuah cerita...
Biarlah cintaku kau bawa pergi...
Aku rela bila cintaku bersamamu...
Karna tak mudah melupakan kenangan itu...
Karna sang pujangga selalu ada dihatiku...
Kini musim yang kedua dari yang pertama...
Seperti tidak ada henti deritaku...
Baru tiga bulan aku ditinggal pergi...
Kini aku harus lebih sendiri...
Aku tak berdaya,harus bertatah sendiri...
Aku butuh semangat,aku harus menghibur diri...
Saat aku butuh suap makan...
Harus tanganku sendiri yang lakukan...
Kau pergi seolah ceria tanpa batas...
Kau bercinta seolah dunia luas...
Dan kau tau apa yang aku rasa...
Sakit,sakit hatiku,dan sangat sakit kakiku...
Tapi kau tidak...
Kau bergurau dengan pasanganmu...
Senyumu seolah kepuasan bagimu...
Senyummu menyudut lebih luka di hatiku...
Sampai aku nekat tunjukan kesemua...
Aku tatah kakiku dengan tongkatku...
Berpura-pura aku sanggup...
Padahal bermodalkan nekat dan sakit dihati...
Aku berani menujukan kepada semuanya...
Dengan sakit hati aku berani...
Aku bawa tongkatku,aku turun sendiri,aku makan berfikir sendiri,meski banyak orang yang kasihan...
Tapi aku tunjukan kalau aku bisa...
Dua malam aku tak bisa tidur...
Sampai aku dipelukan orang tua ku...
Terlelap lega bersamanya...
Dan tangis air mata yang aku berikan...
Canda tawa adiku itu semangatku...
Tapi hingga aku mimpi bersamamu...
Biarkan,biarkan derita yang menjelma...
Kayak nya tak cukup aku membuat puisi dengan ceritaku...
Tapi kenangan tanpa arti...
Tapi kenangan tanpa tangis...
Bukan kenangan yanga ada didalam hati...
Meski bahagia muncul dari hati...
Meski derita itu juga muncul dari hati...
Jadi biarkan kenangan terukir di hati...
Karna hati bisa diam untuk menanti...
Musim yang nomer tiga...
Aku lalui dengan tangis yang mendalam...
Orang tua kedua yang aku ikuti kini telah tiada...
Dia pergi untuk selamanya...
Kini aku hidup sendiri...
Tanpa dia,dan pak deku...
Air matapun keluar tak mampu utuk mengenang...
Air matapun tak sanggup untuk membalas...
Maafkan jika selama ini aku konyol...
Dan maafkan jika semua mengecewakan...
Tapi kan ku usahakan semua akan menjadi baik...
Dan tak kan terulang seperti sedia kala...
Rasa sendiriku semakin dalam...
Dimusim nomer tiga...
Semua kosong...
Semua sedih...
Kenapa musim menjadi tiga dalam tahunMu...
Hancur hatiku...
Biar dia bahagia dengan pasanganya...
Karna bisa menutupi sedih yang lara ini...
Maafkan jika aku menyipan dendam...
Maafkan jika aku menyimpan suka...
Dengan ini pula aku bisa bercerita...
Semua kenagan yang ada...
Tapi aku bangga dengan kekasihku...
Meski dimusim gugur dia terlihat bersemi...
Dia mau menerima aku apa danya...
Tanpa malu dan merasa bangga...
Ia tunjukan diriku dengan sahabatnya...
Gandeng tanganku dengan mesra...
Meski jalanku tak rata...
Tapi dia tak mali dan tak buat aku kecewa...
Terimakasih my honey...
Kau mau mengisi hariku yang penuh ujian ini...
Kulah cahaya hatiku...
Terimakasih kau cintaku(niecha') I L U...
Biarkan kenanganku terkubur dengan kenangan bersamamu,
Biarkan tumbuh kenangan ku bersamamu,kan kutata dengan nama...ini TRIMS
By:Ayi merana
Kirim puisi lewat e-mail:www.ariwibowoe92@yahoo.com
judul:MESKI SURAM TANPA DIRIMU dubuat pada tanggal 07-07-2011
BalasHapuskamu pernah bilang sndri kenangan akan dia tidak akan hilang.....
BalasHapusbiarkan kenangan tetap menjadi kenangan....
*never give up*
hmmm...bisa hilang g?low hilang g bisa,low diikhlaske bisa,kan gitu ya
BalasHapus